Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryMar 12, '09 12:33 AM
for everyone
By Republika Newsroom

Minggu, 08 Maret 2009 pukul 13:27:00
Perpaduan Seni Jawa-Islam

Masjid Agung Jawa Tengah




Arsitektur
Islam di Jawa, pada hakikatnya, tidak terlepas dari keberadaan
kebudayaan dan tradisi yang sudah ada sebelum Islam masuk di wilayah
ini. Tidak mengherankan, bila di masa-masa awal masuknya Islam di tanah
Jawa, bentuk-bentuk masjid masih menggunakan gaya arsitektur
tradisional yang cenderung bernuansa Hinduisme. Itu tampak seperti pada
penggunaan atap tajuk dan pemakaian mustaka pada puncak atapnya.
Bahkan, pada beberapa masjid, ada yang memiliki pendopo di depan masjid
atau serambi masjid.

Tidak itu saja. Masuknya Islam ke Jawa juga
berkaitan dengan kekuasaan raja-raja masa itu sehingga menghasilkan
bangunan masjid yang cukup megah pada zamannya dengan kekhasan
tersendiri. Perpaduan itu tampak, misalnya, dari bangunan masjid yang
ada dalam lingkungan keraton. Umumnya, sebuah kerajaan Islam memiliki
keraton yang berdampingan dengan masjid.

Pertimbangan memadukan
unsur-unsur budaya lama dengan budaya baru dalam arsitektur Islam
menunjukkan adanya akulturasi dalam proses perwujudan arsitektur Islam,
khususnya di Jawa. Apalagi, dalam sejarahnya, pada awal perkembangan
agama Islam di Jawa, penyebaran Islam dilakukan dengan proses selektif
tanpa kekerasan sehingga sebagian nilai-nilai lama masih tetap diterima
untuk dikembangkan.

Ajaran Islam yang masuk tanpa kekerasan dan
bersifat terbuka terhadap unsur-unsur kebudayaan lama yang telah ada
memengaruhi wujud dalam arsitektur Islam, khususnya arsitektur masjid.
Karena itulah, bangunan-bangunan masjid yang ada dipengaruhi oleh
faktor sejarah, latar belakang kebudayaan daerah, lingkungan, serta
adat istiadat masyarakat setempat.

Konon, sebelum membangun
Masjid Demak, Sunan Kalijaga berdiri di tengah lahan tempat masjid akan
didirikan sambil merentangkan tangan. Tangan kirinya tertuju ke arah
bumi dan tangan kanannya ke arah kiblat. Sikap ini dilakukan bukan
tanpa maksud. Ia berkeinginan bahwa dalam berarsitektur harus
memerhatikan kaidah atau nilai yang sudah ada di masyarakat dan
memikirkan kaidah baru yang akan dimasukkan. Maklum, saat itu telah ada
kaidah Hindu dan Buddha. Kaidah Islam merupakan kaidah baru yang akan
dimasukkan. Kaidah-kaidah inilah yang dipadukan dengan baik dalam karya
arsitektur Islam.

Masjid Agung Demak di Jawa Tengah mempunyai
nilai historis cukup penting yang berkaitan dengan sejarah perkembangan
agama Islam di Jawa. Legenda-legenda muncul dari sejarah
perkembangannya yang kemudian menempatkannya pada kedudukan yang
keramat bagi masyarakat yang meyakininya. Bangunan masjid ini berdiri
di atas lokasi sekitar alun-alun Kota Demak. Wujud arsitekturalnya
menunjukkan akulturasi kebudayaan Islam dengan kebudayan Hindu saat
itu. Atap bangunannya runcing ke atas dengan tiang-tiang penopang yang
besar dan tinggi. Motif-motif hias tiang bangunannya tampak berhubungan
dengan kebudayaan Majapahit.

Demikian pula dengan Masjid Kudus
yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi. Menara masjid
yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa
Tengah, ini berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit. Pembauran
kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Islam tampak jelas. Wujud bangunan
menara dan adanya wujud bangunan candi inilah yang berasal dari
kebudayaan Hindu. Ciri bangunan Hindu lebih dipertegas dengan
konstruksi bangunan yang tersusun dari bahan batu bata dengan pola
bangunan kepala (mahkota)--badan kaki, sedangkan ciri bangunan Islam
adalah masjid sebagai bangunan induknya.

Penampilan keseluruhan
masjid ini merupakan satu kesatuan dalam satu kompleks bangunan.
Padahal, ada kalangan yang menilai bahwa usaha mempersatukan unsur
Hindu dan Islam pada Masjid Menara Kudus tidaklah dilakukan melalui
seleksi ketat sehingga tampak kurang adanya kesan saling mendukung
antara bentuk yang satu dan bentuk yang lainnya. Hal ini menyebabkan
masjid tersebut secara arsitektural tidak terlihat kesan menyatu antara
unsur candi, bentuk gerbang yang bercorak Majapahit, dan bentuk kubah
masjid yang menjadi ciri arsitektur Islamnya.

Dalam perjalan
waktu, perpaduan budaya masih tetap mewarnai arsitektur Islam di Jawa.
Hingga kini, bangunan masjid--yang kerap dimanifestasikan sebagai
arsitektur Islam--tidak terlepas dari perpaduan budaya setempat dengan
budaya lainnya. Itu bisa dilihat dari bangunan Masjid Agung Jawa Tengah
(MAJT) yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11
November 2006.

Arsitektur masjid yang terletak di Jalan Gajah Raya, Semarang, ini merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Arab, dan Yunani.

Konsep
bangunan tersebut menggabungkan arsitektur Jawa, Islam, dan Roma.
Pemilihan warna ataupun penataan interior masjid dirancang dengan
bentuk dan hiasan yang didominasi oleh pengaruh dua budaya: Jawa dan
Islam. Bentuk kubah, lengkungan, geometri bintang delapan, dan
kaligrafi yang ada dalam masjid mencerminkan budaya Islam.

Masjid yang mampu menampung 15.000 jamaah ini mempunyai konsep yang diterjemahkan dalam tradisi candra sengkala. Pesan dalam candra sengkala yang dipadu dalam kalimat "Sucining guna gapuraning gusti"
(4391-1934 Jawa atau 2001 tahun Masehi Miladiyah) menandai awal
terbesitnya niat untuk mulai membangun masjid mutiara tanah Jawa itu.

Ditinjau
dari segi arsitekturnya, bangunan masjid ini meneladani prinsip gugus
model kluster dari Masjid Nabawi di Madinah. Bentuk penampilan
arsitekturnya merupakan gubahan baru yang mengambil model dari tradisi
masjid para wali dengan membubuhkan corak universal arsitektur Islam
pada bangunan pusatnya dengan menonjolkan kubah utama yang dilengkapi
dengan "minaret" runcing menjulang di keempat sisinya.

Adanya
perpaduan itu menunjukkan bahwa arsitektur Islam yang selama ini
dipahami sebagai arsitektur yang dibangun oleh masyarakat Muslim telah
melahirkan bentuk-bentuk yang memiliki karakternya sendiri sebagai
cerminan komunitas Muslim. Bagaimanapun, konsentrasi arsitektur pada
masa awal perkembangan Islam memang cenderung bernuansa teosentrisme
sehingga melahirkan arsitektur yang sangat megah, berupa masjid,
istana, makam, atau benteng. Hal itu berlanjut hingga saat ini pada
bangunan berarsitektur Islam di Jawa yang memiliki ciri khas tersendiri
dan berbeda dengan bangunan sejenis yang ada di daerah atau di negara
lain. bur/berbagai sumber


Pengaruh Majapahit pada Arsitektur Islam

Arsitektur
bangunan Masjid Agung Demak sedikit banyak dipengaruhi corak budaya
Bali yang dipadu dengan langgam rumah tradisional Jawa Tengah. Ini
mengindikasikan bahwa pembuatnya adalah arsitek pribumi yang tidak
dapat meninggalkan unsur-unsur kebudayaan sendiri di masanya. Bangunan
masjid yang terletak di sebelah barat alun-alun ini diperkirakan
memiliki kedekatan dari arsitektur zaman Majapahit.

Kedekatan
arsitektur Masjid Demak dengan bangunan Majapahit bisa disimak pada
bentuk atapnya. Kubah--yang identik dengan ciri masjid sebagai bangunan
Islam--malah tak digunakan. Bentuknya justru mengadopsi bangunan
peribadatan agama Hindu. Ini merupakan upaya membumikan Masjid Demak
sebagai sarana penyebaran agama Islam pada abad ke-15 di tengah
masyarakat Hindu.

Bentuk atap yang dipakai adalah tajuk tumpang
tiga. Bagian paling bawah menaungi ruangan berdenah segi empat. Atap
bagian tengah mengecil dengan kemiringan lebih tegak ketimbang atap di
bawahnya. Sedangkan, atap tertinggi berbentuk limasan dengan tambahan
hiasan mahkota pada puncaknya. Komposisi ini mirip meru, bangunan tersuci di pura Hindu.

Masjid
ini diperkirakan didirikan pada tahun 1477 M atas kerja sama walisanga.
Dari tahun pendiriannya, Masjid Demak dianggap sebagai masjid pertama
yang berarsitektur atap tumpang. Sebelum kebudayaan Islam masuk ke
Indonesia, khususnya di Jawa, sudah ada kebudayaan Hindu-Buddha yang
mengenal seni bangunan suci. Antara lain, atapnya berbentuk tumpang
yang hingga kini masih banyak dijumpai di Bali--disebut bangunan meru.
Kesamaan bentuk atap ini memberikan petunjuk adanya akulturasi antara
unsur bangunan kebudayaan Islam dengan Hindu-Buddha pada masa itu.

Arsitektur
Masjid Agung Demak tak jauh berbeda dengan arsitektur Masjid Menara
Kudus. Menara masjid yang dibangun pada tahun 1549 Masehi ini berbentuk
candi yang bercorak Hindu Majapahit. Bentuk ini sulit ditemui
kemiripannya dengan berbagai menara masjid lainnya yang ada di seluruh
dunia.

Bangunan ini memperlihatkan sistem, bentuk, dan elemen
bangunan Jawa-Hindu. Hal ini bisa dilihat dari kaki dan badan menara
yang dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya.
Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang
dipasang tanpa perekat semen--konon dengan digosok-gosok hingga
lengket--dan secara khusus adanya selasar yang biasa disebut pradaksinapatta pada kaki menara yang sering ditemukan pada bangunan candi.

Teknik
konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala
menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan
empat saka guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk. Di bagian puncak
atap tajuk, terdapat semacam mustoko (kepala), seperti pada
puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa
yang merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu.

Arsitektur jawa
dan Timur Tengah tampak pada bangunan Masjid Agung Jawa Tengah yang
dibangun sejak tahun 2001. Masjid yang berlokasi di Jalan Gajah,
Semarang, ini berdiri di atas lahan 10 hektare dan memiliki fasilitas
yang sangat lengkap, seperti convention hall (auditorium), souvenir shop, pujasera, gedung perkantoran, perpustakaan, dan menara pandang. bur/berbagai sumber/kem

 
http://zanikhan.multiply.com/profile





Add a Comment